Penggunaan SCADA pada system pembangkit tenaga listrik
Oleh : Rois Dani-41407110087
Fasilitas SCADA diperlukan untuk melaksanakan pengusahaan tenaga listrik terutama pengendalian operasi secara realtime. Suatu sistem SCADA terdiri dari sejumlah RTU (Remote Terminal Unit), sebuah Master Station / RCC (Region Control Center), dan jaringan telekomunikasi data antara RTU dan Master Station. RTU dipasang di setiap Gardu Induk atau Pusat Pembangkit yang hendak dipantau. RTU ini bertugas untuk mengetahui setiap kondisi peralatan tegangan tinggi melalui pengumpulan besaran-besaran listrik, status peralatan, dan sinyal alarm yang kemudian diteruskan ke RCC melalui jaringan telekomunikasi data. RTU juga dapat menerima dan melaksanakan perintah untuk merubah status peralatan tegangan tinggi melalui sinyal-sinyal perintah yang dikirim dari RCC.
Dengan sistem SCADA maka Dispatcher dapat mendapatkan data dengan cepat setiap saat (real time) bila diperlukan, disamping itu SCADA dapat dengan cepat memberikan peringatan pada Dispatcher bila terjadi gangguan pada sistem, sehingga gangguan dapat dengan mudah dan cepat diatasi / dinormalkan. Data yang dapat diamati berupa kondisi ON / OFF peralatan transmisi daya, kondisi sistem SCADA sendiri, dan juga kondisi tegangan dan arus pada setiap bagian di komponen transmisi. Setiap kondisi memiliki indikator berbeda, bahkan apabila terdapat indikasi yang tidak valid maka operator akan dapat megetahui dengan mudah.
Fungsi kendali pengawasan mengacu pada operasi peralatan dari jarak jauh, seperti switching circuit breaker, pengiriman sinyal balik untuk menunjukkan atau mengindikasikan kalau operasi yang diinginkan telah berjalan efektif. Sebagai contoh pengawasan dilakukan dengan menggunakan indikasi lampu, jika lampu hijau menyala menunjukkan peralatan yang terbuka (open), sedang lampu merah menunjukkan bahwa peralatan tertutup (close), atau dapat menampilkan kondisi tidak valid yaitu kondisi yang tidak diketahui apakah open atau close. Saat RTU melakukan operasi kendali seperti membuka circuit breaker, perubahan dari lampu merah menjadi hijau pada pusat kendali menunjukkan bahwa operasi berjalan dengan sukses.
Operasi pengawasan disini memakai metode pemindaian (scanning) secara berurutan dari RTU-RTU yang terdapat pada Gardu Induk-Gardu Induk. Sistem ini mampu mengontrol beberapa RTU dengan banyak peralatan pada tiap RTU hanya dengan satu Master Station. Lebih lanjut, sistem ini juga mampu mengirim dari jarak jauh data-data hasil pengukuran oleh RTU ke Master Station, seperti data analog frekuensi, tegangan, daya dan besaran-besaran lain yang dibutuhkan untuk keseluruhan / kekomplitan operasi pengawasan .
Keuntungan sistem SCADA lainnya ialah kemampuan dalam membatasi jumlah data yang ditransfer antar Master Station dan RTU. Hal ini dilakukan melalui prosedur yang dikenal sebagai exception reporting dimana hanya data tertentu yang dikirim pada saat data tersebut mengalami perubahan yang melebihi batas setting, misalnya nilai frekuensi hanya dapat dianggap berubah apabila terjadi perubahan sebesar 0,05 Herzt. Jadi apabila terjadi perubahan yang nilainya sangat kecil maka akan dianggap tidak terjadi perubahan frekuensi. Hal ini adalah untuk mengantisipasi sifat histerisis sistem sehingga nilai frekuensi yang sebenarnya dapat dibaca dengan jelas.
Master Station secara berurutan memindai (scanning) RTU-RTU dengan mengirimkan pesan pendek pada tiap RTU untuk mengetahui jika RTU mempunyai informasi yang perlu dilaporkan. Jika RTU mempunyai sesuatu yang perlu dilaporkan, RTU akan mengirim pesan balik pada Master Station, dan data akan diterima dan dimasukkan ke dalam memori komputer. Jika diperlukan, pesan akan dicetak pada mesin printer di Master Station dan ditampilkan pada layar monitor.
Siklus pindai membutuhkan waktu relatif pendek, sekitar 7 detik (maksimal 10 detik). Siklus pindai yaitu pemindaian seluruh remote terminal dalam sistem. Ketika Master Station memberikan perintah kepada sebuah RTU, maka semua RTU akan menerima perintah itu, akan tetapi hanya RTU yang alamatnya sesuai dengan perintah itulah yang akan menjalankannya. Sistem ini dinamakan dengan sistem polling. Pada pelaksanaannya terdapat waktu tunda untuk mencegah kesalahan yang berkaitan dengan umur data analog.
Selain dengan sistem pemindaian, pertukaran data juga dapat terjadi secara incidental ( segera setelah aksi manuver terjadi ) misalnya terjadi penutupan switch circuit breaker oleh operator gardu induk, maka RTU secara otomatis akan segera mengirimkan status CB di gardu induk tersebut ke Master Station. Dispatcher akan segera mengetahui bahwa CB telah tertutup.
Ketika operasi dilakukan dari Master Station, pertama yang dilakukan adalah memastikan peralatan yang dipilih adalah tepat, kemudian diikuti dengan pemilihan operasi yang akan dilakukan. Operator pada Master Station melakukan tindakan tersebut berdasar pada prosedur yang disebut metode “select before execute (SBXC)“, seperti di bawah ini:
1.) Dispatcher di Master Station memilih RTU.
2.) Dispatcher memilih peralatan yang akan dioperasikan.
3.) Dispatcher mengirim perintah.
4.) Remote Terminal Unit mengetahui peralatan yang hendak dioperasikan.
5.) Remote Terminal Unit melakukan operasi dan mengirim sinyal balik pada Master Station ditunjukkan dengan perubahan warna pada layar VDU dan cetakan pesan pada printer logging.
Prosedur di atas meminimalkan kemungkinan terjadinya kesalahan operasi.
Jika terjadi gangguan pada RTU, pesan akan dikirim dari RTU yang mengalami gangguan tadi ke Master Station, dan pemindaian yang normal akan mengalami penundaan yang cukup lama karena Master Station mendahulukan pesan gangguan dan menyalakan alarm agar operator dapat mengambil tindakan yang diperlukan secepatnya. Pada saat yang lain, pada kebanyakan kasus, status semua peralatan pada RTU dapat dimonitor setiap 2 detik, memberikan informasi kondisi sistem yang sedang terjadi pada operator di Pusat Kendali (RCC).
Hampir semua sistem kendali pengawasan modern berbasis pada komputer, yang memungkinkan Master Station terdiri dari komputer digital dengan peralatan masukan keluaran yang dibutuhkan untuk mengirimkan pesan-pesan kendali ke RTU serta menerima informasi balik. Informasi yang diterima akan ditampilkan pada layar VDU dan/atau dicetak pada printer sebagai permanent records. VDU juga dapat menampilkan informasi grafis seperti diagram satu garis. Pada RCC (pusat kendali), seluruh status sistem juga ditampilkan pada Diagram Dinding (mimic board), yang memuat data mengenai aliran daya pada kondisi saat itu dari RTU.
Anda juga dapat membaca artikel scada lainnya di sini dan sini
semoga bermanfaat,
PERSOALAN POKOK PADA PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK
Pembangkit listrik yang biasa digunakan pada suatu Sistem Tenaga Listrik (STL) terdiri dari pembangkit listrik tenaga air (Hydro plant atau PLTA) dan unit-unit thermal.Pembangkit-pembangkit itu sekarang ini umumnya sudah berhubungan satu dengan yang lainnya, atau yang sering disebut dengan interkoneksi. Setelah beroperasi dalam waktu tertentu, maka dari pembangkit-pembangkit itu ada yang keluar dari sistem interkoneksi dan hal ini disebabkan karena ada unit pembangkit yang rusak dan tentunya perlu diganti atau diperbaiki, kedua karena ada pembangkit yang istirahat untuk keperluan pemeliharaan.
Salah satu contoh rencana pemeliharaan unit pembangkit adalah dengan menggunakan metode Levelized Resh dari Gaever. Namun dalam aplikasinya harus dibagi dalam dua kriteria, yaitu pertama unit pembangkit bisa dikeluarkan tanpa adanya penyesuaian. Kedua unit pembangkit yang dikeluarkan harus diatur dalam kurun waktu yang terbatas.
Dengan demikian berarti pada waktu tertentu ada unit pembangkit yang keluar dari sistem, sehingga akan menimbulkan perubahan pada biaya produksi. Tapi setelah habis masa pemeliharaan (overhaul) harus dilakukan evaluasi koefisien ongkos pembebanan hal ini dilakukan untuk memperoleh akurasi yang baik.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimumkan ongkos tapi memenuhi tingkat sekuriti. Biasanya pada operasi pembangkit thermal biaya yang dihitung hanyalah biaya bahan bakar, hal ini karena komponen biaya yang lainnya dinaggap konstan. Berarti kalau saja bisa dihemat penggunaan bahan bakar, maka pengeluaran biaya pada pengoprasian sistem tenaga listrik bisa dikurangi. Sementara itu beban yang akan dilayaninya berubah-ubah menurut waktu, jadi yang penting adalah bagaimana dalam operasi pembangkit hidro-thermal itu bisa dihemat penggunaan bahan baker
Kemudian dengan menggunakan metode dynamic programing dapat dicari alternatif pembebanan hidro thermal yang optimum.
Sedangkan kemampuan pembangkit thermal dapat diketahui dengan menggunakan effective capabilitydari Gaever :
C" = C - M In (1-r+r.Cc/m)
Di mana :
C" = Effective capability (MW)
C = Installed capacity
M = System characteristic
r = FOR (forced outage rate)
Dan untuk pembangkit hidro kemampuan maximun bisa diketehui dari model operasi dan situasi air.
Demikian sekelumit tentang persoalan pokok pada pembangkit tenaga listrik… semoga bermanfaat
SYSTEM PENTANAHAN
Oleh : ROIS DANI
NIM : 41407110087
melakukan pentanahan ditunjukkan oleh Gambar 1.
NIM : 41407110087
Dalam sebuah instalasi listrik ada empat bagian yang harus ditanahkan atau sering juga disebut dibumikan. Empat bagian dari instalasi listrik ini adalah:
- Semua bagian instalasi yang terbuat dari logam (menghantar listrik) dan dengan mudah bisa disentuh manusia. Hal ini perlu agar potensial dari logam yang mudah disentuh manusia selalu sama dengan potensial tanah (bumi) tempat manusia berpijak sehingga tidak berbahaya bagi manusia yang menyentuhnya.
- Bagian pembuangan muatan listrik (bagian bawah) dari lightning arrester. Hal ini diperlukan agar lightning arrester dapat berfungsi dengan baik, yaitu membuang muatan listrik yang diterimanya dari petir ke tanah (bumi) dengan lancar.
- Kawat petir yang ada pada bagian atas saluran transmisi. Kawat petir ini sesungguhnya juga berfungsi sebagai lightning arrester. Karena letaknya yang ada di sepanjang saluran transmisi, maka semua kaki tiang transmisi harus ditanahkan agar petir yang menyambar kawat petir dapat disalurkan ke tanah dengan lancar melalui kaki tiang saluran transmisi.
- Kawat petir yang ada pada bagian atas saluran transmisi. Kawat petir ini sesungguhnya juga berfungsi sebagai lightning arrester. Karena letaknya yang ada di sepanjang saluran transmisi, maka semua kaki tiang transmisi harus ditanahkan agar petir yang menyambar kawat petir dapat disalurkan ke tanah dengan lancar melalui kaki tiang saluran transmisi.
Dalam praktik, diinginkan agar tahanan pentanahan dari titik-titik pentanahan tersebut di atas tidak melebihi 4 ohm
Secara teoretis, tahanan dari tanah atau bumi adalah nol karena luas penampang bumi tak terhingga. Tetapi kenyataannya tidak demikian, artinya tahanan pentanahan nilainya tidak nol. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya tahanan kontak antara alat pentanahan dengan tanah di mana alat tersebut dipasang (dalam tanah). Alat untuk
melakukan pentanahan ditunjukkan oleh Gambar 1.
KLASIFIKASI SALURAN TRANSMISI BERDASARKAN TEGANGAN
Oleh : Rois Dani
Nim : 41407110087
Selama ini ada pemahaman bahwa yang dimaksud transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi saja. Bahkan ada yang memahami bahwa transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (over head line). Namun sebenarnya, transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat lainnya, yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV), Tegangan Ekstra Tinggi (EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan Menengah (MHV), dan Tegangan Rendah (LV).
Sedangkan Transmisi Tegangan Tinggi, adalah:
•Berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya.
•Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang-tiang (tower) melalui isolator-isolator, dengan sistem tegangan tinggi.
• Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah : 30 KV, 70 KV dan 150 KV.
Beberapa hal yang perlu diketahui:
•Transmisi 30 KV dan 70 KV yang ada di Indonesia, secara berangsur-angsur mulai ditiadakan (tidak digunakan).
•Transmisi 70 KV dan 150 KV ada di Pulau Jawa dan Pulau lainnya di Indonesia. Sedangkan transmisi 275 KV dikembangkan di Sumatera.
•Transmisi 500 KV ada di Pulau Jawa.
•Di Indonesia, kosntruksi transmisi terdiri dari :
•Menggunakan kabel udara dan kabel tanah, untuk tegangan rendah, tegangan menengah dan tegangan tinggi.
•Menggunakan kabel udara untuktegangan tingg dan tegangan ekstra tinggi.
Berikut ini disampaikan pembahasan tentang transmisi ditinjau dari klasifikasi tegangannya:
1.SALURAN UDARA TEGANGAN EKSTRA TINGGI (SUTET) 200 KV – 500 KV
•Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di atas 500 MW.
•Tujuannya adalah agar drop tegangan dan penampang kawat dapat direduksi secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif dan efisien.
•Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah: konstruksi tiang (tower) yang besar dan tinggi, memerlukan tapak tanah yang luas, memerlukan isolator yang banyak, sehingga pembangunannya membutuhkan biaya yang besar.
•Masalah lain yang timbul dalam pembangunan SUTET adalah masalah sosial, yang akhirnya berdampak pada masalah pembiayaan, antara lain: Timbulnya protes dari masyarakat yang menentang pembangunan SUTET, Permintaan ganti rugi tanah untuk tapak tower yang terlalu tinggi tinggi, Adanya permintaan ganti rugi sepanjang jalur SUTET dan lain sebagainya.
•Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai dengan 500 km.
2.SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI (SUTT) 30 KV – 150 KV
•Tegangan operasi antara 30 KV sampai dengan 150 KV.
•Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau double sirkuit, dimana 1 sirkuit terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya hanya 3 kawat dan penghantar netralnya digantikan oleh tanah sebagai saluran kembali.
•Apabila kapasitas daya yang disalurkan besar, maka penghantar pada masing-masing phasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle Conductor.
•Jika transmisi ini beroperasi secara parsial, jarak terjauh yang paling efektif adalah 100 km.
•Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop voltaje) terlalu besar, sehingga tegangan diujung transmisi menjadi rendah.
•Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem transmisi dihubungkan secara ring system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan di Pulau Jawa dan akan dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya di Indonesia.
3.SALURAN KABEL TEGANGAN TINGGI (SKTT) 30 KV – 150 KV
SKTT dipasang di kota-kota besar di Indonesia (khususnya di Pulau Jawa), dengan beberapa pertimbangan :
•Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena sangat sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower.
•Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari masyarakat, karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung tinggi.
•Pertimbangan keamanan dan estetika.
•Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi.
Jenis kabel yang digunakan:
•Kabel yang berisolasi (berbahan) Poly Etheline atau kabel jenis Cross Link Poly Etheline (XLPE).
•Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak (oil paper impregnated).
Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan:
•Single core dengan penampang 240 mm2 – 300 mm2 tiap core.
•Three core dengan penampang 240 mm2 – 800 mm2 tiap core.
•Pertimbangan fabrikasi.
•Pertimbangan pemasangan di lapangan.
Kelemahan SKTT:
•Memerlukan biaya yang lebih besar jika dibanding SUTT.
•Pada saat proses pembangunan memerlukan koordinasi dan penanganan yang kompleks, karena harus melibatkan banyak pihak, misal : pemerintah kota (Pemkot) sampai dengan jajaran terbawah, PDAM, Telkom, Perum Gas, Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan lain-lain.
•Panjang SKTT pada tiap haspel (cable drum), maksimum 300 meter. Untuk desain dan pesanan khusus, misalnya untuk kabel laut, bisa dibuat tanpa sambungan sesuai kebutuhan.
Pada saat ini di Indonesia telah terpasang SKTT bawah laut (Sub Marine Cable) dengan tegangan operasi 150 KV, yaitu:
•Sub marine cable 150 KV Gresik – Tajungan (Jawa – Madura).
•Sub marine cable 150 KV Ketapang – Gilimanuk (Jawa – Bali).
Beberapa hal yang perlu diketahui:
•Sub marine cable ini ternyata rawan timbul gangguan.
•Direncanakan akan didibangun sub marine cable Jawa – Sumatera.
•Untuk Jawa – Madura, saat ini sedang dibangun SKTT 150 KV yang dipasang (diletakkan) di atas Jembatan Suramadu.
4,SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 6 KV – 30 KV
•Di Indonesia, pada umumnya tegangan operasi SUTM adalah 6 KV dan 20 KV. Namun secara berangsur-angsur tegangan operasi 6 KV dihilangkan dan saat ini hampir semuanya menggunakan tegangan operasi 20 KV.
•Transmisi SUTM digunakan pada jaringan tingkat tiga, yaitu jaringan distribusi yang menghubungkan dari Gardu Induk, Penyulang (Feeder), SUTM, Gardu Distribusi, sampai dengan ke Instalasi Pemanfaatan (Pelanggan/ Konsumen).
•Berdasarkan sistem pentanahan titik netral trafo, efektifitas penyalurannya hanya pada jarak (panjang) antara 15 km sampai dengan 20 km. Jika transmisi lebih dari jarak tersebut, efektifitasnya menurun, karena relay pengaman tidak bisa bekerja secara selektif.
•Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada (kemampuan likuiditas atau keuangan, kondisi geografis dan lain-lain) transmisi SUTM di Indonesia melebihi kondisi ideal di atas.
5. SALURAN KABEL TEGANGAN MENENGAH (SKTM) 6 KV – 20 KV
Ditinjau dari segi fungsi , transmisi SKTM memiliki fungsi yang sama dengan transmisi SUTM. Perbedaan mendasar adalah, SKTM ditanam di dalam tanah.
Beberapa pertimbangan pembangunan transmisi SKTM adalah:
•Kondisi setempat yang tidak memungkinkan dibangun SUTM.
•Kesulitan mendapatkan ruang bebas (ROW), karena berada di tengah kota dan pemukiman padat.
•Pertimbangan segi estetika.
Beberapa hal yang perlu diketahui:
•Pembangunan transmisi SKTM lebih mahal dan lebih rumit, karena harga kabel yang jauh lebih mahal dibanding penghantar udara dan dalam pelaksanaan pembangunan harus melibatkan serta berkoordinasi dengan banyak pihak.
•Pada saat pelaksanaan pembangunan transmisi SKTM sering menimbulkan masalah, khususnya terjadinya kemacetan lalu lintas.
•Jika terjadi gangguan, penanganan (perbaikan) transmisi SKTM relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan SUTM.
•Hampir seluruh (sebagian besar) transmisi SKTM telah terpasang di wilayah PT. PLN (Persero) Distribusi DKI Jakarta & Tangerang.
6. SALURAN UDARA TEGANGAN RENDAH (SUTR) 40 VOLT – 1000 VOLT
Transmisi SUTR adalah bagian hilir dari sistem tenaga listrik pada tegangan distribusi di bawah 1000 Volt, yang langsung memasok kebutuhan listrik tegangan rendah ke konsumen. Di Indonesia, tegangan operasi transmisi SUTR saat ini adalah 220/ 380 Volt.
Radius operasi jaringan distribusi tegangan rendah dibatasi oleh:
•Susut tegangan yang disyaratkan.
•Luas penghantar jaringan.
•Distribusi pelanggan sepanjang jalur jaringan distribusi.
•Sifat daerah pelayanan (desa, kota, dan lain-lain).
•Susut tegangan yang diijinkan adalah + 5% dan – 10 %, dengan radius pelayanan berkisar 350 meter.
Saat ini transmisi SUTR pada umumnya menggunakan penghantar Low Voltage Twisted Cable (LVTC).
7. SALURAN KABEL TEGANGAN RENDAH (SKTR) 40 VOLT – 1000 VOLT
Ditinjau dari segi fungsi, transmisi SKTR memiliki fungsi yang sama dengan transmisi SUTR. Perbedaan mendasar adalah SKTR di tanam didalam di dalam tanah. Jika menggunakan SUTR sebenarnya dari segi jarak aman/ ruang bebas (ROW) tidak ada masalah, karena SUTR menggunakan penghantar berisolasi.
Penggunaan SKTR karena mempertimbangkan:
•Sistem transmisi tegangan menengah yang ada, misalnya karena menggunakan transmisi SKTM.
•Faktor estetika.
Oleh karenanya transmisi SKTR pada umumnya dipasang di daerah perkotaan, terutama di tengah-tengah kota yang padat bangunan dan membutuhkan aspek estetika.
Dibanding transmisi SUTR, transmisi SKTR memiliki beberapa kelemahan, antaralain:
•Biaya investasi mahal.
•Pada saat pembangunan sering menimbulkan masalah.
•Jika terjadi gangguan, perbaikan lebih sulit dan memerlukan waktu relatif lama untuk perbaikannya
PENGEREMAN DINAMIK MOTOR INDUKSI TIGA FASA
PENGEREMAN DINAMIK MOTOR INDUKSI TIGA FASA
Mahpudin/41407110059
Jurusan Teknik Elektro
FTI – Mercubuana
I. Pendahuluan
Motor induksi tiga fasa banyak digunakan oleh dunia industri karena memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan yang dapat diperoleh dalam pengendalian motor-motor induksi tiga fasa yaitu, strtuktur motor induksi tiga fasa lebih ringan dibandingkan motor arua searah untuk daya yang sama, harga satuan relative lebih murah, dan perawatan motor induksi tiga fasa lebih hemat.
Pengereman pada motor induksi tiga fasa,secara umum masih menggunakan metoda yang sederhana, dengan cara pengereman mekanik dimana torsi pengereman dihasilkan oleh peralatan pengerman yang berupa sepatu rem dan drum yang terpasang pada poros rotor. Pada pengereman ini energi putar dari rotor dikurangi dengan cara menekan poros rotormenggunakan sepatu rem.
II. Dasar Teori
2.1 Motor Induksi
Pada motor induksi arus rotor bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar yang dihasilkan oleh stator.
2.2. Kontruksi Motor Induksi Tiga Fasa
Motor induksi tiga fasa memiliki dua komponen dasar yaitu stator dan rotor.
Tipe dari motor induksi tiga fasa berdasarkan lilitan pada rotor dibagi dua macam yaitu rotor belitan adalah tipe motor induksi yang memiliki rotor terbuat dari lilitan yang sama dengan lilitan statornya dan rotor sangkar tupai yaitu tipe motor induksi dimana kontruksi rotor tersusun oleh beberapa batangan logam yang dimasukkan melewati slot-slot yang ada pada rotor motor induksi, kemudian setiap bagian disatukan oleh cincin sehingga membuat batangan logam terhubung singkat dengan batangan logam yang lain.
2.3. Beban Motor Induksi Tiga Fasa
Dalam melaksanakan pengujian pengereman dinamik digunakan dynamometer DC sebagai beban motor induksi. Dinamometer DC berfungsi untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik.
2.4. Pengereman Pada Motor Listrik
Pengereman secara elektrik, torsi pengereman dihasilkan berdasarkan nilai injeksi yang diberikan pada belitan stator.
Pada pengereman secara elektrik energi putaran rotor diubah menjadi energi elektrik yang kemudian dikembalikan ke suplai daya. Pengereman secara elektrik tidak dapat menghasilkan torsi untuk menahan beban dalam keadaan sudah berhenti dan membutuhkan sumber energi listrik untuk mengoperasikannya.
2.4. Pengerman Dinamik
Pengereman dinamik digunakan untuk menghentikan putaran rotor motor induksi . Tegangan pada stator diubah dari sumber tegangan AC menjadi tegangan DC dalam waktu yang sangat singkat.Torsi yang dihasilkan dari pengereman tergantung pada besar arus DC yang diinjeksikan pada belitan stator.
III. Kesimpulan
Metode pengereman dinamik memiliki keuntungan antara lain kemudahan pengaturan kecepatan pengereman terhadap motor induksi tiga fasa dan kerugian mekanis dapat dikurangi Dengan mengaplikasikan pengereman dinamik pada motor indukssi tiga fasa didapatkan hasil proses menghentikan putaran motor induksi lebih cepat dibandingkan tanpa pengereman dinamik.
DAFTAR PUSTAKA
1) Eugene C. Lister, Ir. Drs. Hanafi Gunawan, Mesin Dan Rangkaian Listrik, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1993.
2) Fizgerald, Kingsley, Umans, Mesin-Mesin Listrik, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1997.
3) Harten, P. Van, Instalasi Arus Kuat 3, CV,Trimitra Mandiri, Jakarta,1978.
4) I J Nagrath, D P kothari, Electric Macines, Tata McGraw-Hill Publishing Co. Ltd, NewDelhi, 1985.
5) Kadir A, Mesin Tak Serempak, Djambatan, Jakarta, 1981.
6) M. Chilikin, Electric Drive, MIR Publisher, Moscow, 1970.
7) M. Rashid, Power Electronics Circuit, Device, and Aplication 2 , Prentice-Hall International Inc, 1988.
8) M.V.Dcshpande, Electric Motor : Applictions And Control, A.H. Wheeler & Co. Ltd, India, 1990.
9) Peraturan Umum Instalasi Listrik 2000.
10) P.C. Sen, Principles Of Electric Machines And Power Electronics, Second Edition, JohnWiley &Sons, USA, 1997.
11) Sumanto, MA, Motor Listrik Arus Bolak-Balik, Endi Offset, Yogyakarta, 1993.
12) Team,Instalasi listrik, TEDC, Bandung.
13) Theodere Wildi, Electrical Machines, Drives and Power System 3 , Prentice Hall Inc, New Jersey, 1997.
14) VedamSubrahmanyam, Electric Drives, Concepts and Applications, Tata McGraw-Hill, New Delhi,1994.
15) Zuhal, Dasar TenagaListrik Dan Eletronika Daya, Gramedia, Jakarta, 1995.
LOSESS (RUGI-RUGI) AKIBAT ADANYA ARUS NETRAL PADA PENGHANTAR TRANSFORMATOR
LOSESS (RUGI-RUGI) AKIBAT ADANYA ARUS NETRAL PADA PENGHANTAR TRANSFORMATOR
Mahpudin/41407110059
Teknik Elektro
FTI-UMB
PENDAHULUAN
Dewasa ini Indonesia sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang. Seiring dengan laju pertumbuhan pembangunan maka dituntut adanya sarana dan prasarana yang mendukungnya seperti ; tersedianya tenaga listrik. Saat ini tenaga listrik merupakan kebutuhan yang utama, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk kiebutuhan industri. Penyediaan tenga listrik yang stabil dan kontinu merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik.
Dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut, terjadi pembagian beban-beban yang pada awalnya merata, tetapi karena ketidakserempakan waktu penyalaan beban-beban tersebut menimbulkan ketidakseimbangan beban yang berdampak pada penyediaan tenaga listrik. Ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa (fasa R, fasa S dan fasa T) inilah yang menyebabkan mengalirkan arus di netral trafo.
TEORI TRANSFORMATOR
Transformator merupakan suatu alat listrik yang mengubah tegangan arus bolak-balik dari satu tingkat ke tingkat yang lain melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip-prinsip induksi elektro magnet. Transformator terdiri dari sebuah inti, yang terbuat dari besi berlapis dan dua (2) buah kumparan, yaitu kumparan primer dan sekunder.
Prinsip kerja transformator adalah berdasarkan hokum ampere dan hokum faraday, yaitu arus listrik dapat menimbulkan medan magnet dan sebaliknya medan magnet dapat menimbulkan arus listrik.
PENGHITUNGAN ARUS BEBAN PENUH TRANSFORMATOR
Daya transformator jika ditinjau dari sisi tegangan tinggi (primer) dapat dirumuskan sebagai berikut :
S = . V . I (1)
Dimana :
S = Daya transformator (kVA)
V = Tegangan sisi primer transformator (kV)
I = Arus Jala-jala (A)
Sehingga untuk menghitung arus beban penuh dapat menggunakan rumus :
IFL = (2)
Dimana :
IFL = Arus beban penuh (A)
S = Daya transformator (kVA)
V = Tegangan sisi sekunder transformator (kV)
LOSESS (RUGI-RUGI) AKIBAT ADANYA ARUS NETRAL PADA PENGHANTAR TRANSFORMATOR
Sebagai akibat dari ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa pada sisi sekunder trafo mengalirlah arus di netral trafo. Arus yang mengalir pada penghantar netral trafo ini menyebabkan losses. Losses pada penghantar netral trafo ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
PN = IN . RN (3)
Dimana :
PN = Losses pada penghantar netral trafo ( watt)
IN = Arus yang mengalir pada netral trafo (A)
RN = Tahanan penghantar netral trafo ( )
Sedangkan losses yang diakibatkan karena arus netral yang mengalir ke tanah dapat dihitung dengan perumusan sebagai berikut :
PG = IG . RG (4)
Dimana :
PG = Losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah (watt)
IG = Arus netral yang mengalir ke tanah (A)
RG = Tahanan pembumian netral trafo ( )
KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN
Yang dimaksud dengan keadaan seimbang adalah suatu keadaan :
• Ketiga vektor arus / tegangan sama besar
• Ketiga vector saling membentuk sudut 120 satu sama lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan keadaan tidak seimbang adalah keadaan dimana salah satu atau kedua syarat keadaan seimbang tidak terpenuhi. Kemungkinan keadaan tidak seimbang ada tiga (3), yaitu :
• Ketiga vector sama besar tetapi tidak membentuk sudut 120 satu sama lain
• Ketiga vector tidak sama besar tetapi membentuk sudut 120 satu sama lain
• Ketiga vector tidak sama besar dan tidak membentuk sudut 120 satu sama lain
PENYALURAN DAN SUSUT DAYA
Misalnya daya sebesar P disalurkan melalui suatu saluran dengan penghantar netral. Apabila pada penyaluran daya ini arus-arus pasa dalam keadaan seimbang maka besarnya daya dapat dinyatakan sebagai berikut :
P = 3 . . .cos
Dengan :
P = daya pada ujung terkirim
V = tegangan pada ujung kirim
cos = factor daya
Daya yang sampai ujung terima akan lebih kecil dari P karena terjadi penyusutan dalam saluran.
Jika adalah besaran arus fasa dalam penyaluran daya sebesar P pada keadaan seimbang, maka pada penyaluran daya yang sama tetapi dengan keadaan tak seimbang besarnya arus-arus fasa dapat dinyatakan dengan koefisien a, b dan c sebagai beikut :
= a
= b (6)
= c
Dengan IR, Is, dan IT berturut-turut adalah arus di fasa R,S, dan T.
Bila factor daya di ketiga fasa dianggap sama walaupun besarnya arus berbeda, besarnya daya yang disalurkan dapat dinyatakan sebagai :
P = ( a + b + c ) . . . cos (7)
Apabila persamaan (7) dan persamaan (5) menyatakan daya yang besarnya sama, maka dari kedua persamaan itu dapat diperoleh persyaratan untuk koefisien a, b, dan c yaitu :
a + b + c = 3 (8)
dimana pada keadaan seimbang nilai a = b = c = 1
Kesimpulan
Ketidakseimbangan beban pada trafo semakin besar karena penggunaan beban listrik tidak merata.
Semakin besar ketidakseimbangan beban pada trafo maka arus netral yang mengalir ke tanah dan losses trafo semakin besar.Salah satu cara mengatasi losses arus netral adalah dengan membuat sama ukuran kawat netral dan fasa.
Daftar pustaka
1. Abdul Kadir,Distribusi dan Utilasi Tenaga Listrik, Jakarta: UI-Press,2000.
2. PersyaratanUmum Instalasi Listrik 2000(PUIL2000), Jakartal: Badan Standarisasi Nasiaonal,2000.
3. James J. Burke, Power Distribusi Engineering Fundamentals And Applications, New York: Marcel Dekker Inc,1994.
4. Sudaryatno Sudirham, Dr., Pengaruh Ketidakseimbangan Arus Terhadap Susut Daya pada saluran, Bandung: ITB, Tim Pelaksana Kerjasama PLN-ITB,1991.
5. Sulasno, Ir., Teknik Tenaga Listrik, Semarang: Satya Wacana,1991.
6. Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, Bandung: ITB, 1991.
7. Abdul Kadir, Transformator, Jakarta: PT.Elex Media Komputindo, 1989.
STUDI PENGGUNAAN RECLOSER UNTUK MENGATASI GANGGUAN TEMPORER PADA JARINGAN TEGANGAN MENENGAH
STUDI PENGGUNAAN RECLOSER UNTUK MENGATASI GANGGUAN TEMPORER PADA JARINGAN TEGANGAN MENENGAH
Mahpudin/41407110059
Teknik Elektro/FTI-UMB
I. Pendahuluan
Kebutuhan energi listrik pada suatu negara berkembang seperti Indonesia semakin lama semakin meningkat sejalan dengan perkembangan pembangunan.Pada dasarnya sebagian besar energi listrik ini dipergunakan untuk instalasi penerangan pada rumah-rumah, perkantoran, serta pabrik-pabrik industri (instalasi industri).
Pengaturan energi listrik kepada konsumen melalui jaringan tegangan menengah kadang kala mengalami beberapa gangguan.
Terdapat 2 jenis gangguan yang akan mengakibatkan terputusnya aliran listrik ke konsumen yaitu : gangguan yang bersifat sementara yang biasa terjadi pada saluran udara dan gangguan bersifat permanent yang biasanya terjadi pada saluran kabel tanah.
Salah satu cara untuk mengatasai gangguan sementara agar terputusnya aliran listrik tidak terlalu lama adalah dengan memanfaatkan recloser pada jaringan tegangan menengah untuk penutupan kembali PMT secara otomatis pada saat hilangnya gangguan sementara tersebut.
II. Sistem Jaringan Tegangan Menengah
2.1. Bentuk dasar system jaringan tegangan menengah
Pada dasarnya hanya terdapat 2 sistem jaringan, yaitu system radial dan system lingkaran
21.1. Sistem Radial
Pada system radial tidak ada alternative pensuplaian, oleh karena itu tingkat keandalannya relatif rendah tetapi pengaturan tegangan dapat dilakukan dengan baik.
2.1.2. Sistem Lingkaran
Sistem ini memiliki dua kemungkinan pengaturan , yaitu dari sumberpengisian yang berlainan, jika terjadi gangguan maka terputusnya pengaturan dari sumber pengisian tidak perlu adanya pemadaman, karena akan dilayani dari sumber pengisian yang lain.
2.1.3. Sistem Anyaman
Sistem anyaman ini umumnya dipakai pada jaringan tegangan rendah yang kepadatan bebanya cukup tinggi.
Penerapan struktur anyaman ini pada jaringan tegangan rendah relatif jarang digunakan, karena perlengkapan peralatan hubungnya mrnjadi mahal( daya hubung singkatnya besar)
2.2. Saluran Udara Tegangan Menengah
Sistem lewat udara terdiri dari feeder-feeder disribusi ada yang tersalur dari gardu-garduuntuk melayani daerah- daerah sekelilingnya.
Bagian dari feeder dekat gardu boleh berupa system bawah tanah untuk menghindari kepadatan saluran udara dan alasan keindahan.
III. Penggunaan Recloser Pada Jaringan Tegangan Menengah
3.1. Gambaran umum
Tujuan utama penggunaan Recloser adalah untuk mengatasi gangguan temporer yang terjadi pada saluran udara tegangan menengah. Sedangkan pemakaian Recloser tidak dapat dilakukan pada kabel tanah karena ketidaktahanan terhadap hubung ingkat yang terjadi.
3.2. Penggunaan Recloser
Penggunaan Recloser adalah sebagai peralatan pelepasan dan pemasukan kembali PMT secara otomatis. Recloser biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah yang menggunakan system radial.
Penempatan recloser secara umum biasanya pada:
a) Gardu Induk ; pada peralatan proteksi saluran primer
b) Line dengan jarak tertentu dari Gardu Induk sampai sejauh saluran pemutus otomatis.
c) Cabang-cabang penting dari saluran-saluran utama dengan tujuan unutk mengamankan saluran udara dari pemutusan dan pemadaman.
IV. Kesimpulan
1. Penggunaan recloser lebih tepat dan efektif pada saluran udara tegangan menengah yang menggunakan system radial
2. Recloser harus dikoordinasikan dengan relay gangguan tanah agar recloser dapat bereaksi dengan cepat terhadap gangguan tanah yang cukup kecil
Daftar Pustaka
1. Anthony Michael A, Electric Power Protection And Coordination,Mc Craw-hill,Inc NewYork.
2. Asea Braw Boveri, Swicthgear manual, 8 Edition Mannheim,1988
3. Ir.Basri hasan , Sistem Distribusi Tenaga Listrik, Diktat kuliah ISTN Jakarta 1994
4. Perpustakaan LMK-PLN Pole Mounted Recloser And Sectionlizer, LMK-PLN1980
5. Perpustakaan LMK-PLNSistem Penutup PMT Otomatis Pada Jaringan Tegangan Menengah, LMK-PLN1980
6. PT.PLN Standar Perusahaan Umum Listrik Negara,SPLN 52-3,Jakarta 1983
ANALISA PENGARUH RECONNECTOR PADA SUTR – SL TERHADAP SUSUT DISTRIBUSI/LOSSES PT.PLN DISTRIBUSI JAKARTA RAYA DAN TANGERANG
ANALISA PENGARUH RECONNECTOR PADA SUTR – SL TERHADAP SUSUT DISTRIBUSI/LOSSES PT.PLN DISTRIBUSI JAKARTA RAYA DAN TANGERANG
Mahpudin/41407110059
Teknik Elektro/FTI-UMB
Abstrak
Sistem jaringan tenaga listrik yang didambakan adalah kelangsungan penyaluran tenaga listrik secara terus – menerus dengan mutu listrik yang lebih baik.
Apalagi PT. PLN Distribusi Jakarta Raya Tangerang Khususnya saat ini sedang berusaha untuk menurunkan losses ditetapkan pada program susut distribusi tahun 2005. Dimana salah satu program tersebut adalah pemerataan beban JTR untuk memperkecil arus netral dan pengganti konektor kualitas rendah.
I. Pendahuluan
Seiring dengan meningkatnya kondisi perekonomian di Indonesia, maka kebutuhan akan ketersediaan tenaga listrik juga meningkat, dimana ketersediaan tenaga listrik ini juga dikuti dengan kehandalan dalam pendistribusian baik secara kualitas maupun kuantitas.
Dari penjelasan diatas terlihat ada dua kepentingan yaitu :
- Dari pihak konsumen menginginkan pasokan tenaga listrik yang handal
- Sedangkan dari pihak PLN sendiri menginginkan tenaga listrik yang besar dengan tingkat losses yang seminimal mungkin, sehingga keuntungan dari penjualan tenaga listrik yang telah ditargetkan fapat dicapai.
II. Peralatan Saluran Udara Tegangan Rendah dan Dan Saluran Langsung
2.1. Tiang Listrik
Salah satu komponen utama dari kontruksi jaringan listrik yang digunakan untuk menyangga hantaran listrik serta perlengkapannya agar jarak minimal dengan tanah atau benda lainya terpenuhi.
Berdasarkan bahanya dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a. Tiang besi
b. Tiang beton
2.2. Penghantar SUTR - SL
Penghantar atau yang disebut juga konduktor berfungsi untuk menghantarkan arus listrik, dimana besar penghantar ditentukan oleh besarnya arus yang mengalir.
Untuk Distribusi Jaya dan Tangerang besar penghantar yang digunakan untuk SUTR adalah 3 X 70 + N mm jadi rata-rata gawang adalah 35 M.
2.3. Pembumian
Pembumian pada SUTR memakai kawat CU 50mm terisolasi disini dipakai karena di netral TC selalu ada arusyang diakibatkan karena sulitnya pembagian beban yang betul-betul seimbang di masing-masing fasa.
III. Kesimpulan
Bahwa pada program rekonector ini dapat memberikan perbaikan secara teknis, dimana losses baik energi maupun tegangan dapat diturunkan, beban lebih merata, pencurian dapat diminimalisir.
Daftar Pustaka
1. Basri H , Sistem Distribusi daya Listrik, ISTN Jakarta 1997
2. Suruipto Kursus Pengaman Jaringan Distribusi Tegangan Rendah Udiklat Bogor
3. Tatang A “ Distribusi Tenaga Listrik I “PNI, Jakarta 1999
4. Konektor Tembus Kedap Air Untuk Kabel Pilin Udara Tegangan Rendah, SPLN no 84.1992 Jakarta
PENGGUNAAN RECLOSER DALAM MENGAMANKAN GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH
PENGGUNAAN RECLOSER DALAM MENGAMANKAN GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH
Mahpudin/41407110059
Tehnik Elektro/FTI-UMB
I. Pendahuluan
Pendistribusian tenaga listrik ke konsumen biasanya sering terdapat gangguan-gangguan pada system tenaga listrik antara lain disebabkan oleh gangguan hubung singkat.
Gangguan hubung singkat di saluran udara tegangan menengah yang terbanyak merupakan gangguan satu fasa ke tanah yang sipatnya temporer.
Dalam hal ini dikarenakan sering terjadi gangguan di saluran udara tegangan menengah, oleh karena itu PT.PLN menggunakan pengaman arus lebih pada system distribusi di sisi tegangan menengah yaitu dengan menggunakan recloser yang diletakan di wilayah rawan terjadi gangguan .
II. Landasan teori
2.1. Umum
Sistem tenaga listrik adalah semua intalasi dan peralatan yang disediakan untuk tujuan penyaluran dan pendistribusian tenaga listrik, dengan demikian system distribusi termasuk salah satu system tenaga listrik.
Sedangkan pengertian dari distribusi listrik adalah semua bagian dari system tenaga listrik yang terletak antara sumber tenaga listrik dengan konsumen.
2.2. Sistem tegangan menengah
Saluran tegangan menengah yaitu saluran yang aman dari sisi skunder trafo tenaga pada gardu induk sampai sisi primer trafo pada gardu distribusi.
Tegangan nominal yang dipakai umumnya 6,7,12,20 KV yanhg digunakan oleh PLN ialah tegangan 20KV.
Hantaran yang digunakan pada jaringan tegangan menengah dapat dibagi 2 macamyaitu :
• Jaringan hantaran udara yang dapat menggunakn kawat terbuka atau kabel udara ( SUTM ).
• Jaringan hantaran bawah tanah yang menggunakan kabel yang biasa disebut saluran kabel tegangan menengah ( SKTM ).
2.3. Gangguan pada jaringan tegangan menengah
Gangguan pada jaringan tegangan menengah dapat dibagi dua :
1. Gangguan dari dalam ; tegangan lebih dan arus lebih.
2. Gangguan dari luar ; pemasangan tidak baik.
- Gangguan dari luar :
Saluran kabel tegangan menengah (SKTM)
- Gangguan mekanis karena pekerjaan galian saluran lain
- Kendaraan yang lewat di atasnya
- Deformasi tanah
Saluran udara tegangan menengah (SUTM)
- Angin
- Kegagalan atau kerusakan peralatan pada saluran
- Cuaca
- Benda lain seperti benang laying-layang
2.4. Pengertian Recloser
Suatu alat otomatis yang mempunyai kemampuan sebagai pemutus arus bila terjadi gangguan hubung singkat yang dilengkapi dengan alat pengindera arus gangguan dan merupakan peralatan pengatur kerja yang dilakukan apabila itu bersifat temporer.
Prinsip kerja:
Cara kerja recloser ini tidak banyak berbeda misalnya dalam mendeteksi gangguan keduanya mengguankan sensing trafoarus pada pengaturan elektonik.
III. Kesimpulan
1. Berdasarkan perhitungan, apabila terjadi gangguan hubung singkat satu fasa degan tanah dengan jarak lokasi gangguan 50% dari gardu induk atau berada ditengah penyulangadalah 253.42 A
2. Sedangkan berdasarkan data gangguan dari panel box control recloser telah terjadi gangguan hubung singkat satu fasa dengan tanah di fasa R sebesar 326A dimana letak gangguan berada di tengah penyulang.
Daftar pustaka
1. Pribadi Kadarisman dan Wahyudi Saimun, Koordinat OCR &GFR
2. Hasan Basri, Sistem Distribusi Tenaga Listrik
3. Djiteng Marsudi, Operasi system Tenaga Listrik
4. McGraw-Edison Power Sistem Division, Distribusi System Proteksi Manual
5. Perpustakaan LMK-PLN, Sistem Pemutus PMT Otomatis Pada Jaringan Tegangan Menengah
EVALUASI KOORDINASI PROSES TRAFO 150-20 KV DI GARDU INDUK TANGERANG BARU
EVALUASI KOORDINASI PROSES TRAFO 150-20 KV DI GARDU INDUK TANGERANG BARU
Mahpudin/41407110059
Teknik Elektro/FTI UMB
Abstrak
Sistem distribusi tenaga listrik yang menggunakan kabel udara sering mengalami gangguan. Gangguan yang sring terjadi adalah gangguan tak simetris yang berupa hubung singkat suatu fasa ke tanah, antar fasa ataupun putusnya salah satu atau dua fasa. Transformator yang merupakan peralatan dalam utama dalam gardu induk harus mendapat pengaman yang tepat.
I. Pendahuluan
Proteksi system tenaga listrik adalah system proteksi yang dilakukan kepada peralatan-peralatan listrik yang terpasang pada suatu system tenaga misalnya : generator, trafo jaringan dan lain-lain terhadap kondisi abnormal operasi system itu sendiri.
Sistem proteksi diperlukan untuk sebagai berikut :
a. Menghindari ataupun untuk mengurangi kerusakan peralatan-peralatan akibat gangguan .
b. Untuk dapat melokalisir luas daerah tegangan menjadi sekecil mungkin .
c. Untuk dapat memberikan layanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada konsumsi dan juga mutu listrik yang baik.
d. Untuk mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.
II. Distribusi tenaga listrik
2.1. Distribusi tenaga listrik
Tenaga listrik dibangkitkan oleh pusat-pusat listrik seperti : PLTU, PLTA, PLTG, PLTP, PLTD kemudian disalurkan melalui saluran transmisi setelah tegangan dinaikkan terlebih dahulu oleh trafo step-up. Setelah disalurkan melalui saluran transmisi maka sampailah tenaga listrik di gardu induk dan diturunkan tegangannya menjadi tegangan 20 KV oleh trafo step-down. Tegangan menjadi 20 KV ini disebut tegangan distribusi primer. Setelah tenaga listrik disalurkan melalui jaringan distribusi kemudian tenaga listrik diturunkan menjadi tegangan rendah 380/220 Volt melalui gardu-gardu distribusi dan disalurkan melalui jaringan tegangan rendah ( JTR ) untuk selanjutnya dialurkan ke rumah-rumah konsumen.
2.2. Jenis-Jenis Gangguan
Pada dasarnya jenis-jenis gangguan dapat digolongkan menjadi:
• Gangguan simetri , dimana system sebelum terjadi besaran-besarannya dalam keadaan seimbang dan setelah gangguan tejadi besaran-besarannya masih dalam keadaan seimbang.
• Gangguan tidak simetri, dimana system sebelum gangguan besran-besarannya system dalam keadaan seimbang tetapi setelah terjadi gangguan besaran-besaran tersebut menjadi tidak seimbang .
III. Gardu Induk Tangerang Baru
3.1. Transformator
Transformator adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya.
3.2. Rele Untuk Proteksi Trafo Daya
Ada beberapa macam rele pengaman yang digunakan untuk melindungi trafo dari gangguan yang mungkin terjadi.
Adapun jenis rele proteksi yang biasa digunakan sebagai berikut:
• Rele arus lebih ; rele yang bekerja berdasarkan arus lebih akibat adanya gangguan hubung singkat
• Rele arus lebih berarah ; rele arus lebih yang mempunyai elemen arah.
• Rele hubung tanah ; rele hubung tanah pada jaringan tegangan menengah pada dasarnya menggunakan rele arus lebih.
• Rele beban lebih ; keadaan bila lebih harus dibedakan dari keadaan arus lebih.
3.3. Sistem Koordinasi Proteksi Gardu Induk Tangerang Baru
Sistem proteksi merupakan salah satu dari beberapa system yang mendukung pengopersian system tenaga listrik, dengan demikian maka pengolahannya harus diperhatikan kebutuhan system yang diamankan .
Agar system proteksi dapat bekerja sesuai dengan fungsinya maka dalam melakukan koordinasi system pengaman harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Keamanan peralatan
b) Keamanan system
c) Keamanan konsumen
IV. Kesimpulan
a. Mengacu pada perhitungan analisa mendapatkan perhitungan arus gangguan bekerja lebih kecil di bandingkan daya arus gangguan tanpa beban maka setting rele menggunakan hasil perhitungan arus gangguan pada kondisi tanpa beban.
b. Penentuan setting rele proteksi menggunakan hasil perhitungan gangguan yang paling rendah, sehingga rele akan tetap bekerja jika timbul arus gangguan yang lebih besar.
c. Analisis koordinasi proteksi untuk menentukan proteksi trafo mengacu dari arus gangguan untuk menentukan setting rele.
d. Sistem proteksi merupakan salah satu dari beberapa system yang mendukung pengoperasian system ditribusi tenaga listrik, dengan demikian maka pengolahannya harus memperhatikan kebutuhan system yang diamankan.
e. Agar system proteksi bekerja sesuai dengan fungsinya maka dalam melakukankoordinasi proteksi perlu memperhatikan keamanan peralatan, system dan konsumen.
Daftar Pustaka
1) Supervisi Relay Proteksi Transmisi dari Gardu Induk, jasa pendidikan dan pelatihan
2) Sistem Pengaman Trafo Penyulang, Penyaluran dan Pusat Penyaluran Beban Jawa Bali, PT PLN(persero).Jakarta 1999.
3) Rele Proteksi Jaringan Tegangan Menengah, PLN Pembangkitan dan Penyaluran Jawa Bagian Barat.
4) William D. Stevenson,JR, Element of Power System Analysis, Nort Caroline StateUniversty.1981.
5) Paul M Anderson, Analysis Of Faulted Power System, the lowa state university.1973.
6) HIlal, Sistem Distribusi Tenaga Listrik, UMB 2005
7) Husodo B, Analisa Sistem Tenaga Listrik,UMB 2004
8) Badarudin,”Sistem Proteksi”. UMB 2003
PENENTUAN NILAI PENGENAL DAN JENIS ARRESTER UNTUK PERLINDUNGAN TRANSFORMATOR SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH ( SUTM ) 20 KV
PENENTUAN NILAI PENGENAL DAN JENIS ARRESTER UNTUK PERLINDUNGAN TRANSFORMATOR SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH ( SUTM ) 20 KV
Mahpudin/41407110059
Teknik elektro/FTI UMB
I.Pendahuluan
Dengan makin meningkatnya kemajuan teknologi khususnya pada bidang industri dan meningkatnya taraf hidup masyarakat, khususnya di kota-kota besar maka akan semakin meningkat pula tuntutan masyarakat akan penggunaan dan pelayanan energi listrik.
Terutama terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi yang dapat menyebabkan energi listrik menjadi terganggu.
Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada Saluran Udara Tegangan Menengah adalah tegangan lebih. Tegangan lebih adalah merupakan salah satu gangguan yang sangat berbahaya pada system tenaga listrik.
Penyebab terjadinya tegangan lebih ada 2 macam yaitu :
a. Tegangan lebih dalam ( internal over voltage )
Tegangan lebih yang timbul dari sirkuit itu sendiri.
b. Tegangan lebih luar ( exsternal over voltage )
Tegangan lebih yang timbul
II. Sistem Jaringan Distribusi 20 KV Dan Perlindunganya Terhadap Sambaran Petir.
2.1. Umum
Jaringan distribusi berfungsi mendistribusikan tenaga listrik dari pusat supply. Dalam hal ini didapat dari gardu induk atau pusat pembangkit ke pusat beban (gardu trafo/distribusi).
2.2. Sistem jaringan distribusi
Sistem jaringan distribusi ada 2 macam yaitu jaringan distribusi primer dan jaringan distribusi skunder.
• Jaringan distribusi primer adalah jaringan antara gardu induk dan gardu distribusi.
• Jaringan distribusi skunder adalah jaringan antara gardu distribusi dan jaringan pelayanan.
Sistem jaringan distribusi primer tegangan menengah digunakan pada Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM).
2.3. Gardu Induk
Gardu induk adalah instalasi sarana penyaluran daya listrik yang terdiri dari peralatan-peralatan yang berfungsi menstransformasikan tegangan listrik dari suatu tingkat tegangan ke suatu tingkat tegangan lainnya dan pengukuran.
Gardu pada umumnya terbagi 3 jenis:
1. Gardu induk ; serangkaian peralatan listrik yang berfungsi untuk menerima pasokan daya dari pembangkit melalui saluran transmisi dan menurunkannya menjadi tegangan 20 KV.
2. Gardu hubung ; seperangkat peralatan listrikyang berfungsi sebagai penghubung gardu induk dan gardu distribusi.
3. Gardu distribusi ; serangkaian peralatan listrik yang befungsi untuk menurunkan tegangan distribusi menjadi tegangan rendah.
2.4. Saluran Udara Tegangan Menengah
Saluran udara tegangan menengah adalah kawat udara yang dipasang di udara terbuka dengan menggunakan tiang sebagai penyangga.
2.5. Jenis Sambaran Petir
• Sambaran langsung
• Sambaran tidak langsung
2.6. Arrester
Arrester adalah merupakan alat yang terpenting dalam koordinasi isolasi system tenaga listrik.
Alat ini berfungsi melindungi pealatan listrik yang trpasang pada gardu induk dengan cara membatasi surja tegangan lebih yang datang dari saluran transmisi dan mengalirkannya ke tanah.
III. Pemilihan Klas Nilai dan Nilai Pengenal Arrester
Dalam pemilihan tipe klas dan nilai pengenal arrester, ada beban factor yang perlu dipertimbangkan yaitu :
a. Keperluan proteksi
b. Kondisi system tegangan
c. Perbedaan antara beberapa tipe klas arrester ; station, line dan distribusi
d. Kondisi luar ; apakah normal atau tidak normal
IV. Kesimpulan
1. Pada titik gangguan 100% terlihat bahwa besarnya tegangan pada suatu tegangan terjadi gangguan adalah 20 KV maka nilai arrester yang harus digunakan adalah melebihi atau sama dengan 22 KV.
2. Dalam pemilihan nilai pengenal arrester dan pemasangan arrester pada jaringan distribusi tegangan menengah 20 KV harus diperhatikan pembumiannya.
Daftar pustaka
1. Antonio Aris Munandar, Teknik Tegangan Tinggi penerbit Pradinya Paramita
2. Pieter kend, KT Sirait, PengantarTeknik Eksperimental Tegangan Tinggi. Penerbit ITB Bandung.
3. Djiteng Marsudi,”Pembangkitan Energi Listrik”, penerbit PT Jalanis berkama.
4. Hasan Basri,”Diktat Kuliah Perncanaan Instalasi Listrik”
5. Hutauruk.TS, Pengetahuan Netral SistemTenaga dan Pengetanahan Peralatan”.
6. KT Sirait,Parouli Pakpahan,”Diktat Peralatan Sistem Tenaga Bagian I”.ITB Bandung.
7. Moh Basri,”Proteksi Gardu Induk”PLN jasdik 1990.
8. PUIL Tahun 2000.
9. SPLN 70-1, SPLN 70-2, SPLN 70-3,PUIL 1987.” Daftar Istilah Bidang Kelistrikan Tahun 1988.
Aplikasi Metode Gradien Daya Reaktif dalam Pemisahan Kontribusi Harmonisa Konsumen dan Utilitas pada Point of Common Coupling (PCC)
oleh : Royadi - 41407110004
ABSTRAK
Gangguan harmonisa merupakan suatu
fenomena di sistem daya AC. Pada mulanya penyebab harmonisa adalah ketika inti
besi trafo dan mesin listrik mengalami kondisi saturasi, tetapi seiring
berkembangnya teknologi modern yang ditandai dengan penggunaan komponen
semikonduktor, masalah harmonisa juga semakin meningkat. Sumber harmonisa dapat
berasal dari utilitas maupun konsumen, sehingga perlu dilakukan analisa
pemisahan kontribusi harmonisa antara utilitas dan konsumen di PCC. Dari hasil
analisa melalui grafik perubahan daya reaktif terhadap waktu (ΔQ/Δt)
menunjukkan bahwa grafik cenderung naik selain itu dengan analisa ΔQ/Δt
diperoleh angka 0,04 (ΔQ/Δt >0) sehingga dapat disimpulkan bahwa utilitaslah
yang mempunyai kontribusi harmonisa terbesar di PCC.
Kata kunci: harmonisa, PCC
PENDAHULUAN
Gangguan
harmonisa merupakan suatu fenomena di daya AC. Pada mulanya penyebab harmonisa
adalah
ketika
inti besi trafo dan mesin listrik mengalami kondisi saturasi [1]. Seiring
dengan pertumbuhan teknologi modern yang ditandai dengan peningkatan penggunaan
komponen semikonduktor, masalahmasalah harmonisa menjadi meningkat. Yang
menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana cara
membuktikan
sumber harmonisa tersebut dan siapa yang bertanggung-jawab terhadap gangguan
harmonisa tersebut
Beberapa
metode telah ditemukan untuk mengidentifikasi sumber harmonisa, mulai dari The
real power direction method [2,3,
4], metode berdasarkan Teorema Thevenin [5,6]
dan Superposisi [7], critical
impedance
method [6], serta gradient daya
reaktif terhadap waktu (ΔQ/Δt) [8].
POINT OF COMMON COUPLING (PCC)
Menurut
IEEE 519, PCC merupakan titik terdekat pada sisi utilitas dari pelayanan
pelanggan dimana pelanggan utilitas dapat disuplai. Pengertian PCC secara
praktikal yang benar adalah pada sisi primer trafo (tegangan menengah) yang
melayani pelanggan, tanpa memperhatikan trafo pelanggan atau lokasi pengukuran (metering).
Pada kenyataannya, tentu saja secara praktikal pengukuran dilakukan pada sisi
sekunder trafo. Berikut ini adalah gambar dari PCC:
HARMONISA
Harmonisa
merupakan suatu fenomena yang timbul akibat pengoperasian beban listrik non
linier sehingga terbentuklah gelombang frekuensi tinggi yang merupakan
kelipatan dari frekuensi fundamentalnya. Gelombang-gelombang frekwensi tinggi
menumpang pada gelombang aslinya (fundamental frequency
waveform) sehingga terbentuk gelombang cacat (distorted
waveform) yang merupakan jumlah antara gelombang murni sesaat dengan
gelombang harmoniknya.

Gambar 2. Gelombang sinusoidal dan terdistorsi [10]

Gambar 3. Diagram
vektor segitiga daya
Pada
segitiga daya, ada 3 macam daya yaitu daya aktif (P), daya reaktif (Q) dan daya
nyata (S). Daya aktif adalah daya listrik yang dapat diubah ke bentuk energi
yang lain seperti cahaya dan lain-lain. Daya reaktif adalah daya yang
diperlukan untuk pembentukan medan magnet dan daya nyata adalah resultan vektor
daya aktif dan reaktif.Seperti halnya dengan segitiga daya, nilai RMS merupakan
akar kuadrat dari penjumlahan fundamental (H1)
kuadrat dan harmonisa (HN)
kuadrat sehingga nlai RMS dapat dianalogikan sebagai daya nyata (apparent
power) sedangkan fundamental (H1)
dapat dianalogikan sebagai daya aktif dan harmonisa (HN) dapat dianalogikan sebagai daya
reaktif karena sifat tidak berkontribusi pada pemakaian daya yang berdayaguna.
Apabila
pada suatu sistem distribusi timbul harmonisa maka power
factor sistem distribusi menjadi jelek (<0.85) sehingga daya
reaktif menjadimeningkat. Daya reaktif ini memerlukan kompensasi terhadap cos φ yang jelek tersebut berupa capasitor
bank dan filter harmonik.
GRADIEN DAYA REAKTIF
Penggunaan
nilai-nilai daya reaktif dalam metode gradien daya reaktif terlebih dahulu
harus memperhatikan impedansi sumber harmonisa apakah induktif atau kapasitif.
Metode gradien daya reaktif merupakan adaptasi dari persamaan keseimbangan
energi, yaitu [8]:
E
= Ein -
Eout (1)
dengan:
E = Rate
of change of total energy
Ein
=
Flow of energy into the system
Eout
=
Flow of energy out the system
Penerapan konsep
keseimbangan energi pada daya
reaktif pada PCC,
didapatkan [8]:
Q
= Qin -
Qout (2)
dengan :
Q = Rate
of change of total reactive power
Qin = Flow
of reactive power into the system
Qout = Flow
of reactive power out the system
Persamaan 2 dapat
dituliskan ulang sebagai berikut [8] :
ΔQ Qin-Qout
______ = ____________
Δt Δt
Pada gambar 3
diasumsikan bahwa arah positif daya reaktif adalah dari utilitas ke konsumen.
Pada PCC, tingkat
perubahan daya reaktif adalah [8]:
ΔQpcc Qu pcc – Qc pcc
______ =
_______________________
Δt
Δt
dimana
:
Qu-pcc
:
Daya reaktif dari ulititas ke PCC
Qc-pcc
:
Daya reaktif dari konsumen ke PCC
Jika
Qu-pcc > Qc-pcc maka ΔQpcc / Δt > 0 sehingga
sumber utama harmonisa adalah utilitas sedangkan jika Qu-pcc < Qc-pcc maka ΔQpcc / Δt < 0 sehingga
sumber utama harmonisa adalah konsumen.
Dari
rumus tersebut maka untuk menghitung daya reaktif pada PCC digunakan rumus [8]:
Qpcc = Im ( Vpcc* I
pcc ) (5)
dimana :
Qpcc : Daya reaktif pada PCC
Vpcc : tegangan harmonisa yang diukur pada
PCC
I
pcc :
arus harmonisa yang diukur pada PCC
Hipotesis
untuk metode gradient daya reaktif dapat disederhanakan sebagai berikut:
·
Jika ΔQ/Δt > 0, utilitas sebagai
sumber utama harmonisa
·
Jika ΔQ/Δt < 0, konsumen sebagai sumber
utama harmonisa
PENGUMPULAN DATA
Penelitian
dilakukan di PCC salah satu Gardu Induk yang menyuplai industri peleburan baja
dimana
peralatan
pabrik yang digunakan antara lain adalah electric
arc furnace (EAF). EAF menghasilkan harmonisa yang cukup besar pada
sistem distribusi.
Spesifikasi Trafo di
sisi utilitas:
Tipe : Outdoor
Daya : 60.000 kVA
Tegangan Kerja : 150 kV // 20 kV
Arus : 1,7 – 230,9 A
Hubungan : YNyn0
Impedansi : 12,8 %
Phasa : 3
Frekwensi : 50 Hz
Tipe
Pendinginan : ONAN/ONAF
Dengan
melakukan pengukuran dan perekaman data di titik PCC (pada sekunder CT dan PT
di panel
incoming
20 kV – sisi sekunder transformator) maka diperoleh data
daya reaktif (Q), arus harmonisa dan tegangan harmonisa (Tabel 3). Setelah
dilakukan pengukuran ternyata harmonisa ke 7 merupakan
harmonisa
yang paling dominan, sehingga data arus harmonisa (Ih7) dan tegangan harmonisa ke 7 (Vh7) yang digunakan untuk analisa.
Tabel
3. Daya reaktif & rata-rata ITHD
Waktu
(t)
|
Daya
Reaktif (Var)
|
Ih7
(A)
|
Vh7
(V)
|
15:15
|
309
|
84
|
62
|
15:20
|
342
|
84
|
74
|
15:24
|
267
|
60
|
54
|
15:27
|
258
|
60
|
56
|
15:31
|
336
|
84
|
72
|
15:34
|
264
|
60
|
52
|
15:42
|
303
|
72
|
56
|
15:47
|
405
|
84
|
68
|
15:52
|
315
|
60
|
48
|
15:55
|
327
|
72
|
64
|
16:00
|
405
|
84
|
66
|
Analisa Sumber Harmonisa Berdasarkan
Grafik
Analisa
sumber harmonisa dapat dilakukan dengan melihat daya reaktifnya. Hal ini
dikarenakan jika
pada
suatu sistem distribusi terdapat harmonisa maka harmonisa akan membuat PF (power
factor) dan
DPF
(displacement power factor)
pada system tersebut menjadi lebih rendah dari 0,85. Pada analisa
dengan
menggunakan metode gradien daya reaktif, sumber harmonisa terbesar pada PCC
dapat diketahui dengan membuat grafik dengan mengmenggunakan data pada Tabel 3.
Hubungan
antara Vh7, Ih7
dan
Q bahwa
besarnya daya reaktif (Q) mengikuti besarnya arus dan tegangan harmonisa.
Semakin besar arus dan atau tegangan harmonisa maka semakin besar pula daya
reaktifnya,demikian sebaliknya. Hal ini membuktikan bahwa besarnya daya reaktif
dapat digunakan untuk menganalisa sumber harmonisa.
Hubungan
daya reaktif terhadap waktu bahwa
kecenderungan grafik daya reaktif terhadap waktu mengalami kenaikan.
Berdasarkan konsep metode gradien daya reaktif disebutkan bahwa jika ΔQ/Δt>0
atau arah positif maka dapat disimpulkan bahwa sumber harmonisa terbesar adalah
dari sisi utilitas.
Dalam
menganalisa sumber harmonisa, metode Gradient Daya
Reaktif membutuhkan data lebih dari
satu
kali pengukuran untuk mengetahui kecenderungan kenaikan atau penurunan daya
reaktif dan
arus
& tegangan harmonisa sehingga dibutuhkan alat ukur yang dapat merekam data
pada suatu kurun
waktu
tertentu.
Analisa Sumber Harmonisa Berdasarkan
Perhitungan
Selain
menggunakan grafik, analisa metode gradient daya reaktif dapat juga dilakukan
dengan menggunakan analisa perhitungan. Dengan menggunakan tabel 3, dicari
nilai ΔQ/Δt apakah lebih besar dari nol atau kurang dari nol
ΔQ
= Qakhir - Qawal
= 405 – 309 = 96 Var
Δt = takhir - tawal
= 16:00 – 15:15 = 2700 detik
ΔQ 9600
______ = ____________
Δt 2700
= 0,04 > 0
Dari
hasil perhitungan di atas terlihat bahwa ΔQ/Δt>0 maka berdasarkan konsep
metode gradien
daya
reaktif dapat disimpulkan bahwa sumber harmonisa terbesar adalah dari sisi
utilitas.

Gambar
7. Simulasi dengan ETAP
Daya Reaktif
Berdasarkan
data-data pengukuran dan spesifikasi transformator, maka dapat dibuat bentuk
pemodelannya dengan menggunakan ETAP dapat dilihat pada Gambar 7 menunjukkan
hasil run load flow dengan software ETAP. Pada bus 6 terlihat daya reaktif yang
masuk ke PCC (bus 4) adalah sebesar 50109 kVar. Sedangkan total daya reaktif
yang keluar dari PCC yang masuk ke beban-beban adalah sebesar 49675 kVar
(17174+15180+16721). Berdasarkan konsep metode gradien daya reaktif disebutkan
bahwa jika Qu-pcc >
Qc-pcc dan ΔQpcc / Δt > 0 maka
dapat disimpulkan bahwa sumber harmonisa terbesar adalah dari sisi utilitas
KESIMPULAN
Berdasarkan
analisa sumber harmonisa berdasarkan grafik, perhitungan dan aliran daya
reaktif, metode gradient daya reaktif menunjukkan bahwa sumber harmonisa
terbesar adalah dari sisi utilitas. Karena sumber harmonisa terbesar dari
utilitas maka pada sisi utiltas perlu dipasang filter harmonisa agar harmonisa
tersebut tidak menyebar ke seluruh system distribusi.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Teshome, “Harmonic Source and Type Identification in a Radial Distribution
System
(Presented
Conference Paper style)”, presented at the IEEE 1991 Industry Applications
Society annual Meeting, Dearboran ,
Michigan , September 28–October 4,
1991, Paper No. 32025.
[2]
W. Xu, X. Liu and Y. Liu, “An Investigation on the validity of power-direction
method for harmonic source detection”, IEEE Trans.
Power
Delivery, vol. 18, pp. 214–218, January 2003.
[3]
W. Xu and Y. Liu, “A method for determining customer and utility harmonic
contributions at the point of common coupling”, IEEE
Trans.
Power
Delivery, vol. 15, pp. 804–811, Apr. 2000.
[4]
M. Tsukamoto, I. Kouda, Y. Natsuda, Y. Minowa and S.
Nishimura , “Advanced method to identify harmonics characteristic
between utility grid and harmonic current sources”,
presented
at the 8th Int. Conference on
harmonic and quality of power, Oct. 14–16, 1998, pp. 419–425.
Langganan:
Postingan (Atom)
